Back Track Frame

back track

“Nah.. sekarang kita lanjut ke bingkai berikutnya.. namanya Backtrack Frame..

Menurut saya.. bingkai jenis ini sangat NLP..

NLP meyakini bahwa pikiran seseorang berproses layaknya sebuah program komputer.. in fact.. komputer lah yang mengikuti proses selayaknya cara kerja pikiran manusia..

Nah.. sebagaimana komputer.. pikiran kita berproses dengan urut-urutan tertentu.. dalam bahasa linguistik ini disebut dengan sintaks..

Jika kita baca buku NLP generasi awal seperti Neuro-Linguistic Programming Volume 1, kita akan mendapati nuansa pemrograman ini begitu kental..

Terapi dalam NLP dilakukan dengan cara mengenali urut-urutan program masalah dalam pikiran klien, lalu mengubah programnya agar ia berfungsi normal kembali..

Seseorang mengalami masalah karena ia tak menyadari berjalannya program dalam dirinya. Yang ketika disadari, akan membuatnya mampu mengubah.

Milton Erickson pernah berkata, “Patient is a patient, because he is disconnected from his unconscious mind.”

Seseorang menjadi klien, mengalami masalah, sebab ia tidak terhubung, tidak menyadari, apa yang ada dalam pikiran asadarnya..

Eh.. mengapa ya saya jadi bahas soal ini?

Tenaaaaang.. ini sangat berkaitan dengan bingkai yang akan kita bahas.. yakni Backtrack Frame..

Lawan dari Backtrack Frame adalah Paraphrase Frame..

Karena pikiran seseorang bekerja dengan urutan proses kerja tertentu, maka untuk memahaminya, kita bisa menelusuri urut-urutan proses dari akhir ke awal..

Contoh.. saya bahagia setelah mengetahui bahwa anak saya mendapatkan penghargaan di sekolahnya..

Menggunakan backtrack frame.. saya bisa memetakan apa yang terjadi dalam diri saya.. yakni..

Mengetahui anak saya mendapat penghargaan –> muncul rasa bahagia..

Contoh lain.. dia sedih karena kunci mobilnya hilang..

Maka polanya adalah…

Kunci hilang —> sedih

Paham?

Nah.. terus.. apa gunanya ini?

Sungguh banyak..

Ada nasihat yang mengatakan, “Apa-apa yang kita sadari, bisa kita kendalikan. Apa-apa yang tidak kita sadari, mengendalikan kita.”

Kesadaran akan apa yang terjadi dalam pikiran kita, akan memungkinkan kita untuk memperoleh solusi atas kondisi kita.

Backtrack frame bisa kita gunakan dengan bertanya pada diri: Bagaimana saya bisa sampai pada kondisi ini? Apa yang terjadi dalam pikiran sehingga saya merasakan ini?

Misal.. saya tiba-tiba merasa kecewa saat berbincang dengan beberapa orang rekan kerja. Saya tidak tahu persis sebabnya. Menggunakan backtrack frame.. saya bisa bertanya.. apa yang terjadi dalam pikiran saya sebelum kekecewaan ini muncul?

Dan apa jawabannya?

Rupa-rupanya.. rasa kecewa muncul setelah mendengar seorang rekan mendapat promosi.

Nah.. sekarang silakan sadari kondisi ini. Rekan mendapat promosi, muncul kecewa. Perlukah? Wajarkah? Bukankah seharusnya saya bahagia?

Oh.. rupanya ada hal lain lagi. Kecewa, didahului oleh mendengar berita promosi, karena saya punya pertanyaan dalam diri, “Mengapa bukan saya yang dipromosi?”

Ah.. jadi ini bukan tentang rekan saya. Ini tentang pikiran saya sendiri. Keinginan saya yang belum terpenuhi.

Paham sampai di sini?

Nah.. itu manfaat bagi diri sendiri. Dalam konteks komunikasi dengan orang lain, beda lagi manfaatnya.

Mau tahu?

Beneran?

Serius?

Dalam komunikasi, kita mengenal istilah konfirmasi.. proses mengecek pemahaman kita akan apa yang disampaikan rekan bicara

Nah.. karena rekan bicara kita berpikir menggunakan urutan proses dalam pikirannya.. ketika kita mengkonfirmasi apa yang ia sampaikan dengan menggunakan backtrack frame, ia akan lebih merasa dipahami..

Misal.. Anda berkata, “Saya kecewa setelah mendengar seorang rekan dipromosi, karena seharusnya saya pun layak untuk mendapatkan promosi yang sama.”

Lalu rekan Anda berespon, “Anda merasa harusnya Anda pun layak mendapat promosi, lalu Anda kecewa, karena rekan Anda dipromosi.”

Bagaimana rasanya? Aneh, ya?

Mengapa demikian?

Karena urutannya tidak pas. Kalau di backtrack, seharusnya proses yang terjadi adalah…

Mendengar rekan dipromosi –> berpikir diri layak –> kecewa

Sekarang kita bandingkan ya..

Anda berkata, “Saya kecewa setelah mendengar seorang rekan dipromosi, karena seharusnya saya pun layak untuk mendapatkan promosi yang sama.”

Lalu rekan merespon, “Anda mendengar rekan Anda dipromosi, lalu terpikir dalam diri bahwa Anda pun layak dan seharusnya mendapat promosi juga, dan oleh karenanya Anda merasa kecewa.”

Beda, kan? Lebih enak?

Tentu.. mengapa?

Karena urutannya tepat..”

Oleh Teddi Prasetya Yuliawan dalam Kuliah Bedah Buku The Art of Enjoying Life

Anda ingin kursus on line cara mendapatkan income sampingan dari internet ? Join Now, DISINI

Related posts

Leave a Comment