Mengenali dan Mengelola Pikiran

mengenal dan mengelola pikiran

Masih berlanjut dengan Kelas bedah Buku The Art of Enjoying Life oleh mas Teddi..

Kita bahas tips mengenal dan mengelola pikiran kita, gimana caranya? penasaran?

Yuk langsung saja kita beri tepuk tangan buat mas Teddi … prookk prookk proookkk.. 😀

“Apa kabar NLP ers?

Ada nasihat.. Sesiapa yang mengamalkan ilmunya, ia kan mendapat lebih banyak dari arah yang tidak disangka2.

Nasihat lain.. Tanda berkahnya sebuah pembelajaran adalah besarnya keinginan tuk mengamalkan.

Bagaimana hasil latihan yang lalu?

Apa saja hasil yang sudah didapatkan?

Ok.. Markijut.. Mari kita lanjut..

Minggu lalu kita bahas tentang salah satu Presuposisi NLP paling dasar: the map is NOT the territory. Peta bukan wilayah. Persepsi bukan realita. Maka mengelola diri sebenarnya adalah mengelola persepsi.. Mengelola pikiran.

Nah.. Sebuah tanya mungkin muncul.. Caranya?

NLP adalah sebuah ilmu pragmatis.. Berorientasi pada pertanyaan how. Maka kala dihadapkan pd istilah pikiran, pertanyaan yg muncul adalah: bagaimana kah riilnya pikiran itu?

Jadilah kita tes saja.. Saat memikirkan sesuatu apa riilnya yang muncul dalam diri kita?

Rupa2nya.. Kesemuanya adalah apa yang dimasukkan lewat panca indera.

Dari apa yang kita lihat.. Lahirlah sebuah bayangan.

Dari apa yang kita dengar.. Terdengarlah suara dalam pikiran.

Dari apa yang kita rasa sensasinya.. Terasa pula sensasi dalam tubuh meski stimulusnya tak ada lagi.

Maka pikiran kita pun kini jadi riil.. Ia memiliki komponen gambar.. Suara.. Rasa..

Tes deh.. Pikirkan apa saja.. Lalu cermati apa yang muncul?

Gimana.. udah?

Nah.. Cuma kalau soal VAK ini, dimana-mana sudah banyak dibahas. Apa uniknya NLP?

NLP masuk lebih dalam. Membedah lagi lebih jauh. Dan menemukan bahwa tidak saja pikiran kita terdiri dari beberapa modalitas.. Ia juga mengandung submodalitas.

Silakan pikirkan seseorang yang dicintai.

Lalu pikirkan bersamaan seseorang yang kurang disukai.

Sementara keduanya memiliki bayangan dalam benak kita, ciri2 detil keduanya pasti memiliki perbedaan.

Beda apa saja? Warna? Gerak? Dimensi?

Detilnya ada di buku. Latihannya juga ada.

Maka saya ingin menyoroti aplikasi lebih jauh. Yakni ketika kita gunakan pemahaman submodalitas ini untuk membedah pikiran dan emosi-emosi positif.

Di bulan ramadhan ini, kita diingatkan bahwa ada banyak orang yang berpuasa hanya dapat lapar dan haus. Sebab diri ini masih sulit mengendalikan pikiran dan emosi negatif yang memicu perilaku negatif pula.

Ngomel misalnya. Apa emosi pemicunya? Dan berbekal pemahaman tentang submodalitas, seperti apa susunannya? Kenali. Ubah satu demi satu.

Nggosip. Apa emosi pemicunya? Seperti apa strukturnya? Kenali. Ubah satu demi satu.

Malas ibadah malam. Padahal pahalanya besar. Seperti apa struktur emosi pemicu malasnya. Kenali. Ubah. Ganti dengan struktur semangat.

Membaca Al Qur’an. Pelajari maknanya. Dan saat membacanya, apa emosi yang terpicu? Agar bisa hayati lebih dalam.. Kenali. Perkuat.

Peta bukan wilayah. Persepsi bukan realita. Maka manusia adalah makhluk yang mem ang diberi kebebasan utk mengolah potensinya sedemikian rupa, hingga melampaui masa lalunya.

Mempelajari submodalitas menyadarkan kami bahwa begitu sering kami ini menyerahkan kendali diri pada keadaan, padahal Tuhan telah berikan kendali dalam diri. Bahwa manusia, dalam sesulit-sulitnya keadaan, tetap diperintah untuk bertindak dalam sebaik-baiknya pemikiran.

Semoga manfaat ya. Selamat berlatih.

Tips latihan:

1. Kenali 5 emosi positif yang dimiliki. Pelajari struktur submodalitasnya. Latihan untuk mengaksesnya secara sadar.

2. Kenali 5 emosi negatif yang kerap muncul. Pelajari struktur submodalitasnya. Latih mengendalikannya.

3. Lakukan selama 1 minggu ke depan.”

Anda ingin kursus on line cara mendapatkan income sampingan dari internet ? Join Now, DISINI

Related posts

Leave a Comment