NLP untuk Manajemen Diri 2 (Menjadi “Sutradara” Bagi Pikiran Kita)

NLP

Assalamu’alaikum wr wb..

Selamat malam semua.. semoga sehat ya..

Tujuan grup ini adalah membahas buku NLP: The Art of Enjoying Life. Jadi idealnya kita belajar menggunakan buku tersebut. Maka bagi yang belum memiliki bukunya. Silakan menikmati tips2nya saja.
Tema malam ini adalah NLP untuk Manajemen Diri. Saya akan bahas bagaimana NLP bisa kita gunakan untuk mengelola diri. Ada banyak teknik dan kita akan ulas beberapa.
Meminjam Daniel Goleman pakar Emotional Intelligence. Self Management bisa terjadi jika didahului oleh Self Awareness. Diri terjadi setelah Kesadaran Diri. Maka untuk bisa mengelola diri kita perlu menyadari bagaimana diri ini bekerja.
Dalam Model Komunikasi NLP yang ada di halaman 86, kita pelajari bahwa perilaku kita digerakkan oleh state atau kondisi atau bahasa mudahnya perasaan kita. Maka untuk mengubah perilaku kita perlu mengubah perasaan kita.

Contoh: mengapa kita membaca buku? Apa perasaan yang menggerakkannya? Misalnya senang. Karena senang maka dilakukan membaca. Sebaliknya, orang yang jika mendengar membaca yang terpicu adalah rasa malas, maka perilaku membaca tidak dilakukan.
Maka untuk mengelola diri, mengubah kebiasaan, kita perlu menyadari dulu perasaan-perasaan yang memicu perilaku yang diinginkan.

Disiplin.. tidak menunda.. apa perasaan yang muncul ketika menunda? Coba disadari..
Komitmen terhadap tugas tertentu.. apa perasaan yang memicu komitmen?
Perilaku ini mesti spesifik kita tentukan.. disiplin.. dalam hal apa tepatnya?
Komitmen.. terhadap apa tepatnya?
Lalu sadari perasaan apa yang sekarang dimiliki.. sehingga belum muncul perilaku?
Selanjutnya.. kenali.. perasaan apa yang diperlukan untuk memunculkan perilaku?
Apa perasaan yang saya perlukan agar bisa disiplin dalam hal tersebut? Komitmen menjalankan hal tersebut?
Jika sudah ditentukan.. bagaimana?

Dikendalikan.. dimunculkan..

Caranya?

Nah.. ini dia..

Dalam model di halaman 86 tadi, kita pelajari kalau state dikendalikan oleh internal representation. Bahasa mudahnya adalah persepsi. Bahasa mudahnya lagi: pikiran.
Perasaan hadir, karena pikiran yang memicunya. Maka mengelola perasaan berarti mengelola pikiran.
Nah.. asyiknya dalam NLP, kita bisa mengenali, menyadari cara kerja pikiran. Pikiran yang tadinya sebuah konsep abstrak jadi lebih konkrit dalam NLP.
Dalam buku, sudah dibahas tentang sistem representasi, yakni kanal-kanal masuknya informasi dari luar ke dalam pikiran kita, yakni panca indera. Karena panca indera itulah, informasi yang masuk pun terdiri dari 5 jenis:

– Gambar
– Suara
– Sensasi sentuh
– Sensari bau
– Sensasi cecap

Ketiga sensasi bisa diringkas menjadi sensasi rasa dan ketiganya sering disebut sebagai VAK (Visual Auditorial Kinestetikal). Maka pikiran yang abstrak itu kini jadi lebih riil, yakni berbentuk gambar, suara dan sensasi rasa.

Silakan cek, pikirkan sesuatu, lalu sadari bentuknya dalam diri. Gambar? Suara? Rasa? Atau ketiganya?

Pikirkan seseorang yang dicintai.. apa saja yang muncul?
Pikirkan aktivitas yang disenangi.. apa saja yang muncul?
Pikirkan makanan favorit.. apa saja yang muncul?
Niscaya.. kalau ga gambar.. suara.. rasa.. ya salah dua atau salah tiganya..

Nah.. kalau sudah begini jadi makin mudah kita kelola. Gambar, suara, rasa.

Kok pikiran kita kayak film ya?

Tentu.. sebab film memang dibuat berdasarkan imajinasi dari pikiran kita. Maka mengelola pikiran, bisa serupa dengan mengelola film dalam pikiran kita.
Mau nulis, belum dilakukan karena rasa malas.

Apa film yang diputar dalam pikiran.. sehingga yang muncul malas?

Oh.. rupanya film tentang kursor yang sulit bergerak..

Oh rupanya film tentang kritikan orang terhadap tulisan kita dulu.. dsb..

Terus.. kalau filmnya sudah disadari, apa yang bisa kita lakukan?

Silakan pilih, mau jadi sutradara atau produser sekalian?

Kalau sutradara, kita bisa tentukan adegan yang ingin dimunculkan, pemain sedang apa, musiknya seperti apa.

Kalau produser, kita bahkan bisa mengganti pemainnya sekalian!
Paling rendah, jadi penonton, kalau filmnya tidak menyenangkan, tidak memotivasi, ya ganti channel!
Nah.. sampai sini dulu deh..

Kesimpulannya..

1. Tentukan perilaku yang akan dimunculkan secara spesifik.

2. Sadari perasaan yang memicunya.

3. Kelola pikiran dengan memainkan filmnya.. gambar suara rasa..
Silakan dicoba..

oleh : Teddi Prasetya Yuliawan dalam Kulwap (Kuliah Whatsapp) Bedah Buku The Art of Enjoying Life.

 

 

Anda ingin kursus on line cara mendapatkan income sampingan dari internet ? Join Now, DISINI

Related posts

Leave a Comment